TUDUHAN TERORISME TERHADAP GUBERNUR YERUSALEM

Sepertinya israel dan palestina masih jauh untuk mencapai puncak perdamaian, pasalnya israel masih saja terus menyerang pemukiman warga sipil di palestina, bahkan tepi barat kabarnya akan di catut oleh para zionis tersebut. Pada berita dunia kali ini, terdengar kabar bahwa terdapat tuduhan terorisme kepada Gubernur Jerusalem, Adnan Ghaith. Jubir polisi Micky Rosenfeld kepada kantor berita AFP menyitir Al Jazeera, pada Senin 6 April 2020,berujar “Adnan Ghaith ditahan pagi ini karena melakukan aktivitas illegal terkait Palestina di Yerusalem, yang ilegal,”.

Israel telah melakukan penangkan terhadap Pejabat Otoritas Palestina (PA) setidaknya enam kali pada tahun lalu dan tujuh kali dalam waktu kurang dari 18 bulan. Dia ditangkap di rumahnya di daerah Silwan, Yerusalem Timur dengan tuduhan bekerja atas nama Otoritas Palestina di bagian kota yang diduduki Israel.  Dia kemudian dibawa ke kantor polisi Rusia Compund di Yerusalem Barat dan dibawa ke pusat ke pusat penahanan Asqalan, selatan Israel. Keesokan harinya, Senin (20/7), Ghaith menjalani persidangan. Seperti diberitakan kantor berita Palestina, Wafa, Pengadilan Israel, kemudian mengembalikan Ghaith ke dalam penjara. Dia dijatuhi hukuman kurungan selama tujuh hari ke depan. Ghaith pertama kali ditangkap Israel pada Oktober 2018 lalu bersama dengan Kepala Badan Intelijen Palestina Jihad al-Faqih. Saat itu, dia dituduh berupaya mempublikasikan nama-nama yang terlibat dalam proses penjualan rumah untuk para pemukim Yahudi di lingkungan Muslim di Yerusalem.Yerusalem masih menjadi poros konflik Timur Tegah yang telah berlangsung selama beberapa dekade, karena warga Palestina mengharapkan Yerusalem Timur – yang diduduki oleh Israel sejak 1967 – nantinya dapat berfungsi sebagai ibu kota negara Palestina.

Hukum internasional memandang Yerusalem dan Tepi Barat sebagai “wilayah pendudukan” dan menganggap seluruh aktivitas pemukiman Yahudi di sana ilegal. Dalam pernyataan terbaru, pengacara Ghaith, Mohammed Mahmoud, menuturkan kepada AFP bahwa selain dakwaan aktivitas politik ilegal, kliennya juga tengah diselidiki atas tuduhan ‘merencanakan aksi terorisme’ dan diperkirakan tidak akan dibebaskan dalam waktu dekat. Disebutkan Mahmoud bahwa ini merupakan pertama kalinya Ghaith menjadi subjek penyelidikan terorisme. Mahmoud menambahkan bahwa badan keamanan domestik Israel, Shin Bet, yang berpengaruh juga terlibat dalam penyelidikan ini. Belum ada komentar dari Shin Bet terkait kasus ini.Israel menduduki Yerusalem Timur saat Perang Enam Hari atau Perang Arab-Israel tahun 1967 silam dan kemudian menganeksasinya dalam langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional. Israel bersikeras menganggap keseluruhan kota Yerusalem sebagai ibu kotanya, sementara Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan bagi negara mereka nantinya.Selama pendudukan, Israel melarang seluruh aktivitas Otoritas Palestina di kota Yerusalem. Oleh karena itu, Otoritas Palestina memiliki seorang menteri urusan Yerusalem dan seorang Gubernur Yerusalem yang berkedudukan di Al-Ram, yang terletak di sisi lain tembok Israel yang memisahkan kota itu di Tepi Barat.

Ghaith berulang kali ditangkap atas tuduhan melakukan aktivitas Otoritas Palestina di Yerusalem Timur. Ghaith telah ditangkap oleh polisi Israel setidaknya 17 kali sejak ia menjabat pada Agustus 2018. Dan penangkapan kali ini menjadi yang ketiga sepanjang tahun ini. Sebelumnya, Ghaith telah ditangkap secara singkat pada April dan Mei 2020. Di bawah hukum Israel, terorisme adalah istilah umum yang mencakup berbagai macam pelanggaran, yang berarti bahwa penyelidikan tidak selalu berarti Ghaith diduga merencanakan tindakan kekerasan.

Juru bicara kepolisian Micky Rosenfeld juga mengatakan kepada AFP bahwa Ghaith sedang diperiksa oleh pasukan keamanan.

Dalam perannya, Ghaith bertanggung jawab untuk mengawasi aktivitas Otoritas Palestina di lingkungan dalam yurisdiksinya di pinggiran dan di luar Yerusalem al-Quds.

Rezim Israel menyatakan seluruh Yerusalem al-Quds sebagai apa yang disebut “ibukota” dalam langkah yang sangat provokatif, membuat geram warga Palestina, yang melihat sektor timur sebagai ibukota negara masa depan mereka.

Setelah deklarasi kontroversial itu, rezim Tel Aviv melarang semua kegiatan Otoritas Palestina di kota itu. Otoritas berbasis di Tepi Barat yang diduduki dan dipimpin oleh Presiden Mahmoud Abbas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *